Pasuruan — Sejarah
Perjalanan Pasuruan dalam lini masa singkat, serta bangunan dan monumen tempat jejaknya masih terlihat.
Lini masa
- Masa Airlangga, abad ke-11Kerajaan awal
Paravan, pelabuhan ramai di masa Airlangga
Pada masa Raja Airlangga, kota ini sudah dikenal sebagai Paravan. Pelabuhannya yang ramai, yang kemudian dikenang sebagai Tanjung Tembikar, menjadikannya pusat dagang di pesisir timur laut Jawa.
- 1545Awal Islam
Demak menaklukkan Pasuruan
Sultan Trenggono dari Demak merebut Pasuruan, yang lama dikuasai raja-raja Hindu Jawa Timur dengan nama lama Gembong, dan kota ini tumbuh menjadi kekuatan Islam penting di pesisir timur.
- 8 Februari 1686Untung Suropati
Untung Suropati menjadi penguasa Pasuruan
Untung Suropati, pemimpin pemberontak yang berperang melawan Belanda, dinobatkan sebagai penguasa Pasuruan bergelar Raden Adipati Wironegoro dan memerintah hingga wafat pada 1706. Tanggal ini menjadi Hari Jadi kota.
- 1751–1799Kabupaten
Bupati Nitiadiningrat I dan Masjid Al-Anwar
Adipati Nitiadiningrat I memerintah Pasuruan selama 48 tahun dan, bersama Kyai Hasan (Mbah Slagah), mendirikan Masjid Agung Al-Anwar di samping alun-alun.
Lihat: Masjid Agung Al-Anwar - 9 Juli 1887Kolonial
Stasiun penelitian gula didirikan
Proefstation Oost-Java dibuka di Pasuruan untuk melawan penyakit sereh yang menyerang tebu di Jawa. Pada 1921 lembaga ini merilis varietas POJ 2878 yang ikut menyelamatkan industri gula; kini namanya P3GI.
Lihat: Pusat Penelitian Gula P3GI - 1896Kolonial
Trem uap untuk kawasan tebu
Pasoeroean Stoomtram Maatschappij mulai mengoperasikan trem uap yang mengangkut penumpang dan muatan seperti tebu, teh, dan tembakau. Perusahaan ini beroperasi hingga 1969.
- 20 Juni 1918Kolonial
Pasuruan menjadi kotapraja
Pemerintah kolonial menetapkan Pasuruan sebagai kotapraja, Stads Gemeente van Pasoeroean, tujuh belas tahun setelah Karesidenan Pasuruan dibentuk pada 1 Januari 1901.
- 25 Desember 1982Modern
Wafatnya Kiai Hamid
KH Abdul Hamid, yang memimpin Pesantren Salafiyah sejak 1951 dan berdakwah ke kampung-kampung di seluruh kota, wafat. Makamnya di belakang Masjid Agung Al-Anwar didatangi peziarah, dan haulnya digelar setiap tahun.
Lihat: Masjid Agung Al-Anwar - 2022–2023Modern
Payung Madinah berdiri di alun-alun
Enam payung raksasa ala Madinah dipasang di depan Masjid Agung Al-Anwar, disusul enam lagi pada 2023, menjadi ikon baru 'Kota Santri'.
Lihat: Alun-alun & Payung Madinah - 2024Modern
Revitalisasi Gedung Harmonie
Pemerintah kota memugar Sociëteit Harmonie era kolonial di Jalan Pahlawan, dulu klub bagi warga Belanda dan Eropa, lalu menjadikannya objek wisata cagar budaya.
Lihat: Gedung Harmonie
Situs cagar budaya
Masjid Agung Al-Anwar
Masjid agung di sisi barat alun-alun, didirikan oleh Bupati Nitiadiningrat I, dengan makam Kiai Hamid yang dimuliakan di pemakaman belakangnya.
Gedung perkumpulan kolonial2Gedung Harmonie
Gedung Sociëteit era kolonial di Jalan Pahlawan yang direvitalisasi pemerintah kota dan kini menjadi salah satu tujuan wisata sejarah favorit di Pasuruan.
Klenteng3Klenteng Tjoe Tik Kiong
Klenteng tua Pasuruan di Jalan Lombok, dengan gerbang naga dan burung hong, panggung wayang potehi, serta lukisan dinding legenda Tiongkok.
Lembaga riset era kolonial4Pusat Penelitian Gula P3GI
Didirikan pada 1887 sebagai Proefstation Oost-Java untuk menyelamatkan tebu Jawa dari penyakit, dan hingga kini tetap menjadi lembaga riset gula Indonesia.
Rumah besar Tionghoa-Indis5Gedung Pancasila
Rumah besar bergaya Indische Empire abad ke-19 dengan ornamen atap Tionghoa, dibangun untuk keluarga Han yang kaya dan dipakai sebagai sekolah sejak 1958.